KENDARI — Prestasi gemilang kembali diraih oleh mahasiswa Universitas Mandala Waluya, khususnya dari Kampus Utama di Kendari. Pada Kamis (17 April 2026), tim mahasiswa dari institusi ini berhasil meraih medali emas dalam Kompetisi Inovasi Teknologi Nasional (KITN) 2026 yang diselenggarakan di Jakarta. Pencapaian luar biasa ini menandai peningkatan signifikan dalam prestasi akademik dan penelitian mahasiswa di tingkat nasional.
Tim pemenang berasal dari Program Studi Teknik Informatika dan Teknik Elektro, terdiri dari empat mahasiswa berprestasi: Riski Aditya Pratama (angkatan 2022), Nadia Kusuma Sari (angkatan 2023), Muhammad Hafiz Riyanto (angkatan 2022), dan Siti Nurhaliza (angkatan 2023). Mereka berhasil mengalahkan 47 tim dari universitas terkemuka Indonesia dengan inovasi mereka yang berjudul “Smart Water Management System for Sustainable Urban Development” (Sistem Manajemen Air Pintar untuk Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan).
Proyek inovatif ini merupakan hasil dari riset intensif selama enam bulan yang melibatkan dosen pembimbing dan dukungan penuh dari institusi. Sistem yang mereka kembangkan mampu mengoptimalkan penggunaan air di perkotaan melalui teknologi Internet of Things (IoT), artificial intelligence, dan sensor otomatis. Dengan solusi ini, efisiensi penggunaan air dapat ditingkatkan hingga 40 persen, sekaligus mengurangi pemborosan air yang menjadi isu kritis di berbagai kota besar Indonesia.
“Kami sangat bangga bahwa mahasiswa Universitas Mandala Waluya dapat bersaing secara langsung dengan universitas-universitas top nasional dan berhasil meraih posisi tertinggi,” ujar Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. H. Bambang Sutrisno, M.Sc., dalam pernyataan resmi yang diterima redaksi pada Jumat (18 April 2026).
Rektor Sutrisno menambahkan bahwa prestasi ini mencerminkan komitmen universitas dalam mengembangkan inovasi dan penelitian yang berdampak langsung pada masyarakat. “Kami telah berinvestasi dalam sarana laboratorium dan mendukung mahasiswa untuk terlibat aktif dalam kompetisi nasional dan internasional. Pencapaian tim ini adalah bukti nyata bahwa komitmen tersebut memberikan hasil yang memuaskan,” lanjutnya.
Perjalanan menuju medali emas ini tidaklah mudah. Ketua Tim, Riski Aditya Pratama, berbagi pengalaman perjuangannya selama mengikuti kompetisi bergengsi ini. “Kami memulai dari ide sederhana melihat kondisi air di kota-kota besar yang semakin kritis. Dari sana, kami berpikir bagaimana teknologi dapat membantu mengatasi masalah ini,” ungkap Riski, mahasiswa tahun ketiga Teknik Informatika.
Riski melanjutkan bahwa prosesnya melibatkan berbagai tantangan teknis dan administratif. “Kami harus menjalani tiga tahap seleksi: proposal tertulis, presentasi regional, dan akhirnya kompetisi final di Jakarta. Di setiap tahap, kami menerima feedback berharga dari para juri dan mentor,” jelas Riski dengan antusias.
Anggota tim lainnya, Nadia Kusuma Sari dari Program Studi Teknik Elektro, menjelaskan peran spesifik dalam pengembangan hardware sistem. “Bagian saya adalah merancang dan mengintegrasikan sensor-sensor yang mampu mengukur kualitas dan kuantitas air secara real-time. Kami menggunakan sensor berbasis Arduino dan Raspberry Pi yang terjangkau namun sangat akurat,” ungkap Nadia.
Muhammad Hafiz Riyanto, yang bertanggung jawab atas pengembangan software dan platform dashboard, menambahkan kompleksitas pekerjaan mereka. “Data yang dikumpulkan dari ratusan sensor harus diproses dengan algoritma machine learning yang canggih untuk memberikan rekomendasi otomatis kepada pengelola air di kota. Ini memerlukan pemahaman mendalam tentang big data dan artificial intelligence,” papar Hafiz.
Siti Nurhaliza, anggota terakhir dari tim pemenang, fokus pada aspek keberlanjutan dan implementasi lapangan. “Kami tidak hanya menciptakan teknologi, tetapi juga memastikan bahwa sistem ini dapat diimplementasikan di lapangan dengan biaya yang terjangkau dan mudah dirawat. Kami telah melakukan uji coba prototipe di beberapa lokasi di Jakarta dan Surabaya,” ungkap Siti.
Dosen pembimbing tim, Dr. Ir. Fajar Kusuma Wijaya, M.T., menekankan pentingnya bimbingan akademis dalam kesuksesan mahasiswa. “Peran pembimbing bukan sekadar mengarahkan, tetapi memfasilitasi mahasiswa untuk berpikir kritis dan kreatif dalam memecahkan masalah nyata. Tim ini menunjukkan komitmen luar biasa dalam pembelajaran berbasis proyek,” kata Dr. Fajar saat dihubungi.
Prestasi ini juga mencakup penghargaan moneter sebesar 150 juta rupiah yang akan digunakan untuk pengembangan lebih lanjut dan diseminasi hasil penelitian. Selain itu, tim telah mendapat kesempatan untuk mengikuti program akselerator startup teknologi yang akan membantu mengomersialkan inovasi mereka.
Kepala Program Studi Teknik Informatika, Dr. Andri Hartono, S.Kom., M.Cs., mengungkapkan kebanggaannya atas pencapaian mahasiswanya. “Ini adalah hasil dari kurikulum yang kami rancang berbasis kompetensi industri dan proyek-proyek nyata. Kami mendorong mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu mengaplikasikan ilmu mereka untuk menciptakan solusi inovatif,” jelasnya.
Menurut informasi yang dihimpun, Universitas Mandala Waluya telah menetapkan target ambisius untuk meningkatkan jumlah mahasiswa yang berpartisipasi dalam kompetisi nasional dan internasional. Pada tahun akademik 2025-2026 ini, sudah tercatat 15 tim mahasiswa dari berbagai program studi yang mengikuti berbagai kompetisi tingkat nasional.
Vibrant Kusumah, Direktur Biro Kemahasiswaan Universitas Mandala Waluya, menerangkan strategi institusi dalam mendukung prestasi mahasiswa. “Kami menyediakan dana riset untuk mahasiswa, fasilitasi pendaftaran dalam kompetisi, dan memberikan ruang kerja yang kondusif di Innovation Hub kampus. Kami percaya bahwa investasi dalam pendampingan mahasiswa akan menghasilkan lulusan berkualitas dan inovator masa depan,” papar Vibrant.
Tidak hanya itu, Universitas Mandala Waluya juga telah menjalin kemitraan strategis dengan berbagai industri teknologi untuk memberikan mentoring langsung kepada mahasiswa berprestasi. “Melalui program industry mentoring, mahasiswa kami dapat belajar langsung dari praktisi industri tentang tantangan nyata di dunia kerja,” tambah Vibrant.
Respons dari kalangan akademisi dan praktisi teknologi juga positif. Salah satu anggota juri kompetisi, Prof. Dr. Eka Putri Maharani dari Universitas Teknologi Jakarta, memberikan apresiasi khusus kepada inovasi Universitas Mandala Waluya. “Sistem yang dikembangkan oleh tim ini tidak hanya inovatif secara teknologis, tetapi juga mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan implementasi sosial. Ini adalah standar yang kami cari dalam kompetisi ini,” katanya.
Dampak dari prestasi ini diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk terlibat dalam kegiatan penelitian dan inovasi. Rektor Sutrisno mengungkapkan rencana institusi untuk mengembangkan ekosistem inovasi yang lebih kuat di kampus. “Kami akan memperbesar ruang inovasi, menambah alokasi dana penelitian, dan menciptakan program magang berbasis inovasi untuk mahasiswa berprestasi,” terangnya.
Pencapaian tim mahasiswa Universitas Mandala Waluya ini juga menunjukkan bahwa institusi pendidikan di daerah dapat menghasilkan inovator berkelas dunia, tidak hanya terbatas pada universitas di pusat-pusat besar negara. Kendari, sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara, kini semakin dikenal sebagai salah satu sumber talenta muda yang inovatif.
Ke depannya, tim pemenang berencana untuk melanjutkan pengembangan sistem mereka dengan target untuk mengimplementasikannya di kota Kendari dan kota-kota lain di Sulawesi Tenggara. Mereka juga mempertimbangkan untuk mendaftarkan hasil inovasi mereka sebagai hak paten dan memulai perjalanan startup teknologi.
Dengan prestasi gemilang ini, Universitas Mandala Waluya telah menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya fokus pada pembelajaran akademis, tetapi juga pada pengembangan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat. Pencapaian mahasiswa berprestasi ini diharapkan menjadi momentum untuk terus meningkatkan kualitas akademik dan riset di institusi tersebut pada masa-masa mendatang.
—
Catatan Redaksi: Universitas Mandala Waluya Kampus Utama di Kendari adalah lembaga pendidikan tinggi yang fokus pada pengembangan teknologi dan sains terapan. Kompetisi Inovasi Teknologi Nasional (KITN) 2026 diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan melibatkan lebih dari 200 tim dari seluruh Indonesia.
(Berita ini merupakan liputan khusus dari Redaksi Jurnalisme Kampus, 18 April 2026)