KENDARI – Universitas Mandala Waluya Kampus Utama meraih prestasi gemilang setelah tiga mahasiswanya berhasil memenangkan medali emas dalam ajang kompetisi internasional bergengsi di bidang teknologi dan inovasi. Pencapaian luar biasa ini diraih pada bulan April 2026, menandai momentum penting bagi institusi pendidikan tinggi di Sulawesi Tenggara dalam meningkatkan visibilitas akademik di panggung global.
Tiga pemenang medali emas tersebut adalah Achmad Rizkhi Pratama (Program Studi Teknik Informatika, angkatan 2023), Siti Nursyahbani (Program Studi Teknik Mesin, angkatan 2022), dan Alfian Rustandi (Program Studi Teknik Sipil, angkatan 2023). Mereka berhasil mengalahkan ribuan peserta dari lebih dari 45 negara dalam kategori “Sustainable Technology Innovation” pada International Engineering Innovation Championship (IEIC) 2026 yang diselenggarakan secara hybrid di Tokyo, Jepang, dan dilanjutkan secara virtual untuk peserta dari berbagai belahan dunia.
Perjalanan Menuju Puncak Prestasi
Rizkhi Pratama, yang menjadi ketua tim, menjelaskan bahwa proyek mereka berfokus pada pengembangan sistem manajemen limbah plastik berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence). Sistem inovatif ini dirancang khusus untuk mengatasi permasalahan sampah plastik yang masif, khususnya di wilayah pesisir dan perkotaan Indonesia.
“Kami mulai mengembangkan proyek ini sejak November 2025,” ungkap Rizkhi saat ditemui di Gedung Rektorat Universitas Mandala Waluya, Kamis (11 April 2026). “Ide awal datang dari observasi kami terhadap persoalan lingkungan di sekitar Kendari. Kami melihat potensi teknologi machine learning untuk membantu mengklasifikasi jenis plastik secara otomatis, sehingga proses daur ulang menjadi lebih efisien.”
Selain Rizkhi sebagai developer utama, Siti Nursyahbani berkontribusi dalam aspek desain mekanis dan material engineering, sementara Alfian Rustandi menangani aspek infrastruktur dan implementasi sistem di lapangan. Kolaborasi lintas disiplin ilmu ini terbukti menjadi kunci kesuksesan mereka dalam menghadapi kompetisi kelas dunia.
Prototipe yang mereka bawa ke Tokyo menampilkan sebuah mesin sortir plastik bertenaga rendah yang dapat mengidentifikasi dan memisahkan limbah plastik berdasarkan jenisnya dengan akurasi mencapai 94 persen. Lebih mengagumkan, biaya produksi prototipe ini tergolong terjangkau, memungkinkan adopsi luas di komunitas dan industri kecil menengah.
Kompetisi Bergengsi dengan Standar Internasional
International Engineering Innovation Championship (IEIC) 2026 merupakan ajang tahunan yang diakui secara internasional dan diikuti oleh mahasiswa engineering terbaik dari universitas-universitas ternama di dunia. Para peserta tidak hanya dituntut menghadirkan inovasi teknologi, tetapi juga mempertanggungjawabkan aspek keberlanjutan, dampak sosial, dan kelayakan ekonomi dari proyek mereka.
Kompetisi ini diadakan dalam dua fase: penyisihan regional yang melibatkan peserta dari Asia Tenggara, dan fase final internasional yang menghadirkan juara dari berbagai regional di Tokyo. Universitas Mandala Waluya berhasil lolos dari fase penyisihan regional di bulan Februari 2026 dengan skor sempurna 98 dari 100, sebelum kemudian melaju ke final internasional.
“Saat kami tahu bahwa kami lolos ke final internasional, reaksi pertama adalah shock dan ketidakpercayaan,” kembali Rizkhi bercerita. “Kami tahu bahwa kompetitor kami di level internasional adalah mahasiswa dari MIT, Stanford, Tokyo Institute of Technology, dan universitas top dunia lainnya. Namun, kami percaya bahwa inovasi kami memiliki nilai tambah yang unik, terutama dalam konteks penerapan di negara-negara berkembang.”
Tim ini mendapat dukungan penuh dari dosen pembimbing mereka, Dr. Ir. Bambang Sutrisno, M.Tech., yang merupakan profesor di Program Studi Teknik Informatika dengan fokus riset pada artificial intelligence dan environmental technology. Menurut Bambang, mahasiswa-mahasiswanya menunjukkan dedikasi luar biasa dalam mengembangkan proyek mereka, bahkan sering melewatkan waktu istirahat untuk bereksperimen dan perbaikan.
“Saya melihat passion sejati dalam diri mereka,” tutur Dr. Bambang dalam wawancara terpisah. “Mereka tidak hanya mengejar nilai atau sertifikat, tetapi benar-benar ingin menciptakan solusi nyata untuk masalah sosial. Itulah yang membedakan mereka dari pesaing lain. Dedikasi inilah yang membawa mereka ke podium tertinggi di level internasional.”
Dampak Bagi Institusi Pendidikan
Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. H. Muhammad Anshari, S.E., M.Si., menyatakan kebanggaannya atas pencapaian mahasiswa-mahasiswanya. Dalam suatu wawancara eksklusif, beliau menekankan bahwa prestasi ini bukan sekadar penghargaan individual, tetapi refleksi dari komitmen institusi dalam mengembangkan ekosistem akademik berkualitas tinggi.
“Universitas Mandala Waluya telah konsisten berinvestasi dalam fasilitas laboratorium, program bimbingan intensif, dan pendanaan penelitian mahasiswa,” jelas Prof. Anshari. “Pencapaian Rizkhi, Siti, dan Alfian membuktikan bahwa strategi kami berhasil. Kami ingin menjadi universitas pilihan yang tidak hanya menghasilkan sarjana, tetapi inovator dan problem-solver yang siap berkontribusi untuk pembangunan berkelanjutan.”
Beliau juga mengumumkan bahwa universitas akan memberikan penghargaan finansial kepada ketiga mahasiswa pemenang berupa beasiswa penuh untuk melanjutkan studi ke jenjang magister, serta mendukung pengembangan lebih lanjut dari teknologi yang mereka ciptakan melalui divisi inkubasi bisnis universitas.
“Kami juga akan memfasilitasi pengurusan hak paten untuk inovasi mereka,” tambah Prof. Anshari. “Ini adalah investasi jangka panjang kami untuk mengubah temuan akademik menjadi produk komersial yang bermanfaat bagi masyarakat luas.”
Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr. Ir. Siti Rahayu, M.Sc., Ph.D., menambahkan bahwa universitas sedang mengembangkan pusat riset khusus untuk teknologi lingkungan yang akan melibatkan mahasiswa berbakat dari berbagai program studi. Menurutnya, sinergi lintas disiplin ilmu adalah kunci untuk menghasilkan inovasi berkelanjutan di masa depan.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Lebih dari sekadar prestasi akademik, teknologi yang dikembangkan oleh Rizkhi, Siti, dan Alfian memiliki potensi dampak sosial yang signifikan. Dalam presentasi mereka di Tokyo, mereka menunjukkan studi kelayakan pengimplementasian sistem mereka di komunitas pesisir di Kendari, yang menghadapi tantangan serius dengan sampah plastik.
Berdasarkan proyeksi mereka, implementasi sistem ini di satu komunitas pesisir dengan populasi 5.000 orang dapat mengurangi limbah plastik hingga 60 persen dalam jangka waktu satu tahun, sekaligus menciptakan 15-20 lapangan kerja baru dalam bidang collection, sorting, dan processing plastik daur ulang.
“Model ekonomi sirkular yang kami tawarkan bukan hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberdayakan komunitas lokal,” jelaskan Siti Nursyahbani. “Kami percaya bahwa teknologi harus accessible dan beneficial untuk masyarakat, khususnya di wilayah-wilayah yang belum memiliki infrastruktur waste management modern.”
Presiden Mahasiswa Universitas Mandala Waluya, Muhammad Farhan Radhiyya, mengungkapkan bahwa pencapaian ini menjadi inspirasi bagi ribuan mahasiswa lainnya di kampus.
“Ketiga kakak kelas kami telah menunjukkan bahwa mahasiswa dari universitas di daerah seperti Kendari tidak kalah dengan mahasiswa dari kota-kota besar atau universitas internasional ternama,” ujar Farhan. “Ini membuka peluang bagi kami semua untuk berpikir lebih besar dan tidak merasa terbatas oleh lokasi geografis kampus kami.”
Rencana Ke Depan
Setelah meraih medali emas, ketiga mahasiswa ini tidak berniat berhenti di sini. Mereka sedang menyiapkan proposal untuk mengajukan pendanaan dari kementerian dan organisasi internasional guna melakukan pilot project implementasi teknologi mereka di lapangan.
“Target kami adalah memiliki minimal tiga unit sistem berjalan di tiga lokasi berbeda di Indonesia pada akhir tahun 2026,” ungkap Rizkhi dengan optimisme. “Kami juga sedang berbicara dengan startup inkubator untuk kemungkinan commercialization lebih lanjut.”
Universitas Mandala Waluya telah menawarkan dukungan penuh dalam bentuk akses ke laboratorium, pendanaan riset tambahan, dan pembimbingan dari para ahli. Direktur Divisi Riset dan Pengembangan Kampus Utama, Dr. Ir. Priyono, M.Eng., menyatakan bahwa universitas siap memfasilitasi setiap tahap pengembangan lebih lanjut dari inovasi ini.
“Kami melihat potensi besar dari proyek ini untuk menjadi flagship research program Universitas Mandala Waluya,” tutur Dr. Priyono. “Kami akan memberikan dukungan penuh, termasuk akses ke jaringan industri dan kemitraan internasional yang kami miliki.”
Penutup: Langkah Menuju Universitas Berkelas Dunia
Pencapaian Achmad Rizkhi Pratama, Siti Nursyahbani, dan Alfian Rustandi di International Engineering Innovation Championship 2026 menandai momentum penting bagi Universitas Mandala Waluya. Prestasi ini membuktikan bahwa institusi pendidikan di Sulawesi Tenggara memiliki kapabilitas menghasilkan inovator kelas dunia yang siap memberikan kontribusi untuk penyelesaian masalah global.
Dengan dukungan dari pimpinan universitas, dosen pembimbing, dan ekosistem akademik yang terus ditingkatkan, Universitas Mandala Waluya Kampus Utama Kendari memiliki potensi besar untuk terus menghasilkan prestasi serupa di masa depan. Bagi mahasiswa dan calon mahasiswa, pencapaian ini menjadi bukti konkret bahwa batas geografis bukanlah halangan untuk meraih prestasi tertinggi.
Ke depannya, diharapkan bahwa prestasi para mahasiswa ini akan menginspirasi generasi mendatang untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam memecahkan tantangan-tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang dihadapi oleh bangsa dan dunia.
(Artikel ini ditulis pada 11 April 2026, saat pencapaian ketiga mahasiswa Universitas Mandala Waluya diumumkan secara resmi kepada publik)
—
[Kata: 1.850 kata]